RENUNGAN PUASA RAMADHAN


Kita sering berkata, kenapa pengeluaran di bulan puasa justru meningkat? Ini merupakan kejadian di seluruh dunia, begitu juga di Indonesia. Bukankah pengeluaran harusnya mengecil di bulan puasa karena kita hanya makan dua kali saja di banding kebiasaan sehari tiga kali?
Selama ini kita berpuasa sesudah kenyang bersahur dan siap kembali menyantap sajian buka puasa di sore hari. Miskinkah kita tidak makan dan minum di siang hari? Bukankah puasa itu bertujuan untuk merasakan bagaimana itu miskin, merasakan dan berlatih miskin! Tapi kenapa acara berbuka kita terlalu berlebihan, harus ada kolak, harus ada ini dan ada itu, yang biasanya tidak adapun harus di ada adakan. Seperti inikah puasa? bukankah berbuka hanya untuk membatalkan puasa? Bukankah segelas air putih dan sebutir kurma sudah cukup? Mengapa kita tidak sederhana saja seperti pada bulan lain. Bukankah lebih berarti bila kita menyisihkan rezeki kita bagi saudara saudara yang membutuhkan, miskin bahkan tanpa berpuasa.

Sadarlah kita bahwa puasa bukan hanya bertujuan menahan haus dan lapar, tapi jauh dari itu. Mengajarkan kita kebersamaan, mengajarkan kita kesederhanaan, mengajarkan kita bagaimana rasanya miskin, mengajarkan kita bagaimana kelaparan dan kehausan, mengajarkan kita kepada kepedulian pada sesama. Puasa kita tidak akan mencapai alam rohani dengan hanya sekedar manahan lapar sehari setelah kenyang menyantap sahur dan berbuka dengan se-enak enaknya dan se-banyak banyaknya. Sedangkan kita tidak merasakan menjadi miskin, menjadi kekurangan, dan peduli pada sesama.
Marilah kita lebih peduli kepada sesama kita, saudara saudara kita yang lebih tidak beruntung di banding kita. Puasa mengajarkan kita kelaparan dan kehausan padahal sudah kenyang saat sahur dan kenyang pula saat berbuka. Sedangkan di luar sana banyak yang merasakan kelaparan dan kehausan selama berhari hari. Alangkah indahnya bila menu berbuka kita juga bisa di nikmati oleh 'mereka', mengapa kita mesti ngotot membeli daging yang harganya dua kali lipat dari biasa sementara ada tetangga kita yang membeli beraspun sulit. Saatnya makna puasa menyentuh kita, meningkatkan kepedulian kita, menggerakan hati kita untuk membantu langsung bagi yang membutuhkan.
Ingat, kalau sebagian rezeki kita ada hak mereka. Saatnya kita bertindak, salurkan sebagian rezeki kita bagi yang membutuhkan. Sedekah tidak akan membuat kita miskin, tapi justru akan memperkaya kita karena Allah SWT akan membalas 10 kali lipat dari nilai sedekah kita, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kita bisa menyalurkan bantuan kita secara langsung kepada fakir miskin, anak yatim, kaum dhuafa baik secara langsung maupun melalui lembaga.
YA ALLAH KARUNIAKANLAH KEPADA KAMI PADA BULAN RAMADHAN DENGAN KEIMANAN, KESELAMATAN, KEISLAMAN, DAN BERIKANLAH KEPADA KAMI SEMUA TAUFIK DAN RAHMATMU, AGAR KAMI MAMPU MELAKUKAN AMALAN YANG ENGKAU RIDHOI
Iklan diluar tanggungjawab publisher